Psychological Perspective in Consumer Behavior




Hi guys, berjumpa lagi di Unfide Psychology Dictionary, blog yang akan membahas tentang  mata kuliah yang saya pelajari saat ini yaitu Psikologi Konsumen dan Perilaku. Nah guys bagaimana dengan kabar kalian guys ? saya harap para pembaca sekalian baik baik saja ya, walaupun pandemi ini belum berakhir saya harap kita bisa sama sama kuat, dan tetap bisa survive๐Ÿ˜‡

Perspektif psikologis memfokuskan perhatiannya pada individu (manusia) baik secara teoritis maupun empiris. Sederhananya, Perspektif psikologis itu merupakan pandangan kepada orang - orang yang menyentuh aspek psikologisnya, dan banyak cabang dalam perspektif tersebut, ada perspektif psikoanalisis, ada perspektif behavior, ada perspektif humanistik, dan ada juga perspektif kognitif, dari pada makin bingung mari kita lanjuttt.

Analisis perilaku konsumen mempunyai peranan penting dalam pengambilan keputusan dibidang bisnis yang berorientasi pada konsumen. Karena dalam analisa perilaku konsumen yang lebih mendalam akan membantu kita untuk memahami mengapa dan bagaimana perilaku konsumen tersebut sehingga kita dapat mengembangkan, menentukan harga, merealisasikan dan mendistribusikan barangnya secara lebih baik. Menurut Kotler (2005) perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor faktor salah satunya adalah Faktor psikologi juga mempengaruhi keputusan pembelian. Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh kepribadian.

Dalam perspektif psikoanalisis Freud yang dikutip oleh (Albari 2002) mengemukakan pendapat tentang teori psikoanalisis kepribadian bahwa sesorang itu dalam berperilaku dipengaruhi oleh id, superego dan ego. Id adalah bagian dari kepribadian yang sifatnya primitif dan impulsif serta dipunyai seseorang sejak lahir, berisi pengharapanpengharapan yang memerlukan pemuasan secepatnya, dan aktualisasinya dapat menghasilkan tindakan bawah sadar yang dapat saling berlawanan dengan realitas yang nampak. Sedangkan  superego merupakan ekspresi dari dalam diri seseorang yang berhubungan atau dikembangkan dari nilai-nilai moral masyarakat, yang aktualisasinya berupa tindakan bawah sadar yang dapat menghambat atau mengurangi kekuatan impulsif id. Adapun ego merupakan konsep pengendalian seseorang, yang berfungsi sebagai penyeimbang antara kekuatan impulsif dari id dengan konstrain budaya masyarakat dari superego.

Sigmund Freud juga mengasumsikan bahwa kekuatan psikologis yang membentuk perilaku manusia sebagian besar tidak disadari dan bahwa seseorang tidak dapat sepenuhnya memahami motivasi didalam dirinya. Ketika seseorang mengamati suatu merek tertentu, ia akan bereaksi tidak hanya pada kemampuan nyata pada merek merek tersebut melainkan juga pada petunjuk yang samar. Wujud, ukuran, berat, bahan, warna, dan nama merek dapat memicu arah pikiran dan emosi tertentu.

Keseimbangan antar ketiga bagian dari kepribadian tersebut sangat diperlukan dalam kehidupan, contoh perlunya keseimbangan ketiga hal tersebut adalah tentang suatu produk/merek baru yang relatif mahal harganya akan dibeli seseorang bukan semata-mata karena kualitasnya yang baik (ego), tetapi juga karena harga yang mahal dapat meningkatkan status dan harga diri pembelinya (id). Kemungkinan pembelian produk yang mahal itu mungkin dapat ditunda, atau bahkan dibatalkan, apabila kondisi perekonomian yang sedang buruk. Hal ini supaya yang bersangkutan tidak dianggap sombong dan menghambur-hamburkan uang, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial masyarakat lingkungannya (superego).

Berbedan dengan perspektif  psikoanalisis yang mengasumsikan bahwa kekuatan psikologis yang membentuk perilaku manusia sebagian besar tidak disadari, maka dalam Perspektif Behavior menurut (Sunarto 2006) memngasumsikan bahwa kekuatan lingkungan memaksa konsumen untuk melakukan pembelian tanpa harus terlebih dahulu membangun perasaan atau kepercayaan terhadap produk. Menurut perpektif ini, konsumen tidak saja melalui proses pengambilan keputusan rasional, namun juga bergantung pada perasaan untuk membeli produk atau jasa tersebut. Sebagai gantinya, tindakan pembelian konsumen secara langsung merupakan hasil dari kekuatan lingkungan, seperti sarana promosi penjualan, nilai-nilai budaya, lingkungan fisik dan tekanan ekonomi. Para peneliti yang menganalisis kasus dari perpektif pengaruh perilaku akan memperhatikan untuk menentukan jika tekanan kelompok atau sosial memiliki dorongan yang kuat. Pembelian konsumen secara kuat dipengaruhi oleh karakteristik budaya, sosial dan psikologis.

Secara konvensional pembahasan tentang humanistik banyak didasarkan pada teori hirarki kebutuhan manusia dari Maslow. Menurut Solomon yang dikutip oleh (Albari 2002). Teori ini berusaha menjelaskan motivasi manusia melalui pemenuhan kebutuhan biologis dan psikologi manusia, berupa kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan diri, dan aktualisasi diri Dalam konteks pemasaran, kebutuhan fisiologis dapat berupa cerminan kemampuan konsumen untuk membeli dengan harga atau biaya tertentu, kebutuhan keamanan berupa tingkat keamanan dalam menggunakan produk/merek (misalnya garansi, pelayanan purna jual, atau tersedianya suku cadang), kebutuhan sosial dicerminkan oleh kegunaan produk dalam hubungannya dengan masyarakat, kebutuhan penghargaan diri dapat berupa bagian produk/merek yang bisa mengangkat citra diri konsumen, dan kebutuhan aktualisasi diri dapat ditunjukkan oleh kegunaan utama produk/merek yang dapat menunjang pencapaian potensi diri konsumen. 

Dapat terpenuhinya suatu kebutuhan akan menimbulkan motivasi untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Pemenuhan kebutuhan tersebut tersusun dalam sebuah jenjang dari tingkatan yang paling mendesak sampai dengan yang kurang mendesak, meskipun bukan berarti harus mulai dari kebutuhan fisiologis ke atas sampai dengan kebutuhan aktualisasi diri. Tetapi selalu ada kemungkinan pengecualian dari kecenderungan tersebut. Seseorang kadang-kadang justru lebih termotivasi untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi karena dia ingin memacu pencapaian potensi dirinya, walaupun dia mengalami kesulitan untuk membeli produk / merek tertentu.

Lalu Perspektif Kognitif merupakan tipe tanggapan internal psikologis pada diri konsumen terhadap rangsangan lingkungan dan kejadian yang berlangsung. perspektif kognitif ini melibatkan pikiran, menurut Schiffman dan Kanuk (2009) Model Tiga komponen sikap (Three Component Attitude Model) merupakan model yang dikembangkan oleh para ahli perilaku yang menentukan secara tepat komposisi sikap dengan maksud agar perilaku dapat dijelaskan dan diprediksi, salah satunya yaitu  Komponen Kognitif yang merupakan pengetahuan atau cognition dan persepsi yang diperoleh melalui kombinasi dari pengalaman langsung dengan objek sikap atau attitude object dan informasi terkait yang didapat dari berbagai sumber.

Tanggapan kognitif beragam, misalnya penilaian positif negatif, rasa senang-tidak senang. Keragaman tanggapan dapat melibatkan emosi (cinta, marah), melibatkan tingkat perasaan (kepuasan, frustasi), dan tergantung pada suasana hati (kebosanan) serta melibatkan evaluasi (suka-tidak suka). Kognitif merupakan proses mental dan psikologis serta struktur pengetahuan yang dilibatkan dalam tanggapan seseorang terhadap lingkungannya. Hal tersebut termasuk pengetahuan yang didapat dari pengalaman dan pengetahuan yang telah tertanam dalam memori. Proses psikologi yang termasuk dalam aspek kognitif diantaranya perhatian dan pemahaman terhadap aspek lingkungan, mengingat kejadian masa lalu, pembentukan evaluasi, dan pembuatan keputusan pembelian. Aspek kognitif bisa terjadi melalui proses berpikir sadar ataupun dapat terjadi secara tidak sadar dan otomatis.  

Sebagai kesimpulan, akan sangat berguna untuk mempelajari perilaku konsumen dari perspektif yang berbeda untuk memahami pengaruh pengambilan keputusan logis/rasional, perasaan dan emosi, serta dorongan lingkungan pada perilaku konsumen.

Sekian dan terima kasih untuk para pembaca, semoga tulisan ini bisa menjadi refrensi kalian dalam hal berbisnis maupun hal yang lain, silahkan tinggalkan komentar, saran, atau kritik yaa guys.

Oiya guys sebelum kita sudahi, saya mau ingati para pembaca tentang usaha kecil kecilan saya, yang tak lain dan tak bukan adalah Unfide.store, kalian bisa cek di instagramnya @unfide.store, disitu banyak barang barang branded keren yang murah dan pastinya original, dan khusus buat pembaca blog ini saya akan kasi potongan harga 50.000 jika berbelanja di Unfide.store, caranya gimana ? gampang banget, kalian tinggal comment apa aja dan share tulisan ini, lalu hubungi adminnya yang tertera di bio instagram, dan kasi bukti screenshotnya ya guys, dan jangan lupa memilih produk yang terbaik buat kebutuhan dan style kamu. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, bai guys ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Referensi :

Albari. 2002. “Mengenal Perilaku Konsumen Mengenai Penelitian Motivasi”, Jurnal Siasat Bisnis, UII, No. 7 Vol. 1, Yogyakarta. 

Kotler, Philip. 2006. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prentice Hall.

Peter dan Olson, 1996. Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran. D. Sihombing (penerjemah). Consumen Behavior. Gelora Aksara Pratama. Jakarta. 

Schiffman, Leon G., Kanuk, Leslie Lazar, Wisenblit, Joseph (2010). Consumer Behavior, 10thEdition, New Jersey: Pearson Education, Inc. 

Sunarto, 2006. Pengantar Manajemen Pemasaran, Cetakan 1. Yogyakarta : Ust. Press.

Komentar

Posting Komentar