Analisis Buku consumer Behavior new normal after covid 19

Hi guys, berjumpa lagi di Unfide Psychology Dictionary. Ditulisan kali ini kita akan membahas tentang "Analisis Buku consumer Behavior new normal after covid 19 " yeayyy, kira – kira bagaimana ya Analisis Buku consumer Behavior new normal after covid 19 ? penasaran bukan ? yukk kita bahas !😀

Pendapat saya tentang apakah ada pola konsumen berubah serta perubahan lebih banyak terkait dengan kondisi saja atau akan ada perubahan yang akan tetap pada buku consumer Behavior new normal after covid 19 adalah ada, ada banyak pola konsumen berubah after covid 19, serta perubahan tersebut juga berkaitan dengan kondisi yang sudah dilewatin. Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar.

Dalam buku consumer Behavior new normal after covid 19 (2020) dijelaskan Gaya hidup baru nggal di rumah dengan akvitas working-living-playing, karena adanya social distancing lalu Dengan adanya covid 19 konsumen menghindari kontak fisik manusia, mereka baralih menggunakan media virtual/digital serta  Banyaknya korban nyawa akibat covid 19 melahirkan masyarakat baru yang penuh empati, welas asih, dan sarat solidaritas sosial. Hal tersebut menjadi dasar dari buku itu untuk membuat rangkaian rangkaian prediksi yang akan terjadi setelah covid 19, yang menurut saya cukup masuk akal dengan pernyataan pernyataan buku tersebut. 

Dimulai dari covid 19 memaksa orang untuk berdiam diri di rumah. Krisis covid 19 membawa kita untuk tinggal dan tidak kemana mana, yaitu dengan di rumah aja. Tentu hal ini merubah kita yang awalnya selalu bepergian melakukan aktifitas seperti belajar, bekerja, belanja menjadi harus selalu dirumah, tapi tentu tetap belajar, bekerja, belanja dll, juga pembelian online mulai bergeser dari produk yang sifatnya keinginan menjadi produk yang sifatnya adalah kebutuhan. Belanja online konsumen melebar menjadi kebutuhan sehari hari dan mendalam, dimana volume pembeliannya makin besar, hal ini cukup signifikan dalam perubahan sebelum dan saat covid -19. 

kita juga menghindari makan diluar dan beralih ke layanan makanan diantar atau delivery. Selama ini kita memanfaatkan layanan delivery untuk jenis makanan ringan atau sekedar jajan jajanan seperti: boba tea, pizza, burger, atau ayam geprek namun karena covid 19 bergeser menjadi kebutuhan rutin sehari-hari. Dari pemesanan sesekali ke pemesanan berulang. Lalu kita memiliki waktu cukup luang di rumah selama pandemi memberikan kesempatan bagi kita mengasah keahlian baru yaitu masak.

lalu Emak-emak milenial sudah terlanjur tidak piawai memasak. Walaupun stay at home menjadi momentum kembalinya kebiasaan memasak, namun gaya memasak milenial berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih suka memasak yang simple dan convenient. Maka frozen food dan kemasan ready to cook akan menjadi pilihan.

Dalam buku consumer Behavior new normal after covid 19 (2020) memprediksi saat nanti wabah covid 19 berlalu, tak serta-merta orang berinteraksi fisik seperti sediakala. Bayang-bayang kematian akibat virus akan terus menghantui. Self-distancing akan menjadi kebiasaan permanen. Memakai masker, mencuci tangan setiap saat, menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan akan menjadi kenormalan baru. 

Maka menurut saya Self distancing yang permanen akan melahirkan gaya hidup baru yaitu: “contact-free  lifestyleBelanja dilakukan secara online untuk menghindari paparan virus. Menerima barang dari layanan cukup hanya di depan pintu saja dan tanpa kontak fisik. Menghindari kerumunan seperti nonton konser musik atau event olahraga yang syarat kontak fisik. Menghindari olahraga yang “contact-intensive” seperti gulat, tinju, karate, bahkan sepakbola. Jarak antar kursi di pesawat atau bioskop akan lebih lebar. 

Krisis Covid-19 juga turut membuat kecurigaan antar warga meningkat di masyarakat. Seperti beberapa kasus penolakan jenazah positif covid 19, pengusiran tenaga kesehatan karena takut tertular, atau penolakan pemudik oleh masyarakat di kampung saat lebaran, menciptakan kondisi yang menurut saya adalah “low-trust society“. Social distrust di antara anggota masyarakat akan semakin tinggi.

Tidak lepas dari makanan, fashion saja Dalam buku consumer Behavior new normal after covid 19 (2020) dijelaskan konser musik, event olahraga, hingga konferensi/pameran dibatalkan di seluruh dunia. Sebagai gantinyaadalah virtual concert, virtual sport, virtual conference/seminar, virtual exhibition. Ketika self distancing bakal berlangsung lama, maka virtual experience akan menjadi sesuatu banget. Keunggulannya lebih efisien, lebih konferhensif dan lebih individu.

Aktivitas bersama-sama baik nongkrong, olahraga, senam, meditasi dan yoga, hingga main game juga dilakukan secara virtual. Beberapa minggu terakhir misalnya, marak aktivitas “nongkrong” temen-teman sekantor, sekampung, sekomunitas, atau sesama alumni SD hingga kuliah yang dilakukan via Zoom. Ini adalah kebiasaan baru yang sebelumnya tak dikenal. 

Disamping itu krisis covid 19 merupakan bencana kemanusiaan paling dahsyat abad ini dengan korban nyawa manusia yang begitu besar. Hikmahnya, covid 19 telah menciptakan solidaritas dan kesetiakawanan sosial. covid 19 telah menciptakan masyarakat baru yang empatik, penuh cinta, dan welas asih terhadap sesamanya. Sesuatu yang langka ketika wabah belum mendera. covid 19 bahkan mengubah pola pengasuhan anak. Ketika work from home memungkinkan orang tua banyak berkumpul dengan anak anaknya 

Dan di tengah krisis covid 19, agama menjadi tempat bersandar mencari ketenangan sekaligus harapan. Banyak dari kita menganggap krisis ini adalah bencana atau hukuman yang diberikan Tuhan, bahkan dianggap tanda-tanda hari akhir akan tiba. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius tentunya, cobaan covid 19 semakin mendekatkan kita kepada Tuhan.

Semua hal tersebut mengacu ke piramida Maslow, konsumen kini bergeser kebutuhannya dari “puncak piramida” yaitu aktualisasi diri dan esteem ke “dasar piramida” yaitu makan, kesehatan, dan keamanan jiwa-raga. Itulah kenyataan ini khususnya di Indonesia, setiap orang kini sibuk memastikan bahwa kebutuhan dasarnya atau sembako (Sembilan bahan pokok) bisa terpenuhi setiap saat. Di mata pengusaha, di satu sisi ini bisa menjadi hambatan, tapi bagi yang berpikir positif, keterbatasan ini justru harus dijawab dengan inovasi.

Sekian dan terima kasih untuk para pembaca, semoga tulisan ini bisa menjadi refrensi kalian dalam hal berbisnis maupun hal yang lain, silahkan tinggalkan komentar, saran, atau kritik yaa guys.

Dan terakhir, jangan lupa untuk follow instagram @unfide.store disitu kalian akan disuguhin pilihan - pilhan barang barang branded keren yang murah, dan yang pasti original 😍😍

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, bai guys 😘😘

Referensi :

Yuswohady. Fatahillah, F. Rachmaniar, A. Hanifah,I. (2020) consumer Behavior new normal after covid 19.

Komentar